خبرگزاری شبستان

الأربعاء ٥ ربيع الأوّل ١٤٤٢

Wednesday, October 21, 2020

Headline Berita

Ahlul Bait as Penunjuk Jalan di Dunia Ini

SHABESTAN – Dalam doa ke 42 di dalam Shahifah Sajjadiyah menjelaskan kepada kita jalan dan tujuan mana yang akan kita jalani yang kelak akan membawa manusia pada tujuan utama. Al-Qur’an dan Ahlul Bait as adalah penunjukan jalan di dunia ini, dimana Allah swt sudah menunjukan jalan ini sejak 14 abad silam.

Waktu :   3/12/2015 5:07:14 PM ID Berita : 19741

Empat Hafizh Al-Quran dalam Satu Keluarga
SHABESTAN — Hafalan dan membaca al-Quran memang sudah harus dibiasakan untuk anak-anak kita dari sejak mereka masih kecil sehingga mereka merasa akrab dengan kitab langit ini dari sejak dini.

 

Rahbar Revolusi Islam Iran sudah berkali-kali menekankan urgensitas hafalan al-Quran. Beliau juga pernah menegaskan, Iran harus memiliki 10 juta hafizh al-Quran.

 

Berkah al-Quran ini bisa dicari dalam sebuah rumah tangga yang sangat menjunjung suara kitab ini dibandingkan segala jenis suara yang lain.

 

Rumah tangga Khalafi adalah sebuah rumah tangga hingga kini telah berhasil mendidik 4 hafizh al-Quran.

 

Ingin Lebih Dekat dengan Jami’atul Quran

 

Mustafa Khalafi, kepala keluarga, adalah seorang guru yang telah pensiun. Ia adalah tamatan S1 jurusan sastra Arab dan S2 jurusan al-Quran dan hadis. Sekalipun sudah pensiun, kini ia mengajar aktif mengajar di sebuah SMA di kota besar Tehran.

 

Khalafi adalah penduduk asli Lorestan, Iran, dan selama ini berdomisili di kota ini. Ia memilih Tehran hanya lantaran satu alasan. Tehran memiliki Jami’atul Quran.

 

Khalafi mengisahkan kecenderungan anak-anaknya terhadap al-Quran:

 

Anak-anak memiliki ketertarikan khusus terhadap setiap aktifitas Qurani. Abed anak laki-laki saya selalu mengikuti lomba al-Quran di sekolah dan pasti juara. Saya ingin ia mempelajari al-Quran di bawah asuhan guru-guru yang berpengalaman sehingga kemampuannya tidak terbuang sia-sia.

 

Kala itu, Jami’atul Quran pertama telah dibangun di Tehran. Kota kelahiran kami tidak memiliki banyak fasilitas untuk itu. Keinginan anak-anak untuk belajar al-Quran ini memaksa kami untuk pindah ke Tehran.

 

Kala itu, Abed masih duduk di kelas 1 SMP. Ia meninggalkan sekolah selama 1 tahun dan mengikuti program hafalan al-Quran selama 1 tahun. Ia berhasil menghafal al-Quran selama 7 bulan. Setelah itu, ia lalu melanjutkan studinya.

 

Anak perempuanku, Zahra yang lebih besar dari Abed, tertarik dengan keberhasilan adiknya. Ia pun akhirnya mengikuti program hafalan al-Quran 1 tahun.

 

Elham, anak perempuan saya yang lain, kala itu sedang studi di jurusan Bahasa Prancis. Keberhasilan kedua saudaranya membuat ia tertarik kepada al-Quran. Sembari melanjutkan studi, ia berhasil menghafal 8 juz al-Quran dalam dua bahasa: Arab dan Prancis.

 

Hannaneh baru berusia 4 tahun ketika itu dan aktif mengikuti kelas di Jami’atul Quran. Ia bisa memahami banyak dengan bahasa isyarat. Tetapi, metode ini tidak efektif. Sebelum mengikuti kelas hafalan al-Quran, kami telah mengajarinya membaca al-Quran. Ketika itu, ia sudah mampu membedakan dan membaca huruf, tetapi belum mampu menulis.

 

Pada usia 5 tahun, Hannaneh telah hafal juz 29 dan 30. Guru-gurunya mengatakan kepada saya bahwa ia memiliki kemampuan khusus untuk al-Quran. Ia bisa menghafalkan satu halaman dalam sehari. Selama ini, biasanya ia hanya menghafalkan 1 halaman dalam 1 minggu. Untuk itu, kami mengambil keputusan untuk meluangkan waktu khusus untuknya.

 

Setelah dua tahun berlalu, Hannaneh sudah hafal seluruh al-Quran. Sekarang, kami telah memulai menerjemahkan al-Quran dan sudah menuntaskan juz pertama.

 

Hannaneh berhasil memperoleh peringkat di tingkat propinsi dan nasional. Setiap ada kegiatan Qurani, ia pasti hadir.

 

Hannaneh juga mempelari tilawah al-Quran kepada beberapa guru seperti Ust. Akahvan, Ust. Bahrul Ulum, dan Ust. Sabzali. Ia sekarang membaca al-Quran dengan gaya Ust. Minsyawi. Dari sejak sekarang, Hannaneh sudah memiliki keinginan untuk studi di jurusan al-Quran dan hadis seperti kedua kakaknya.

 

Sekarang Zahra Khalafi hidup bersama suaminya di Chicago, Amerika Serikat. Ia juga telah lulus studi di jurusan al-Quran dan hadis. Setelah mempalajari Bahasa Inggris, ia ingin mengajar di perguruan tinggi.

 

Rumah Zahra di Chicago menjadi tempat pertemuan Qurani untuk warga Iran di Amerika.

 

Abed yang sekarang memilih menjadi guru seperti ayahnya dan berusia 27 tahun sudah memiliki pekerjaan tetap di Lembaga Pendidikan dan Kebudayaan Iran. Di samping itu, ia juga aktif di Darul Quran Hazrat Ali Ashghar untuk kalangan remaja dan anak-anak.

 

Kode: 445193

Komentar

Name :
Email:(Opsional)
Komentar:
Kirim

Komentar