خبرگزاری شبستان

الأحد ٢٩ ربيع الأوّل ١٤٣٩

Sunday, December 17, 2017

Waktu :   12/5/2017 2:40:54 PM ID Berita : 30652

Kejam, Israel Larang Warga Gaza yang Sakit Berobat
SHABESTAN — Pada Januari, Yara Bakheet yang berusia 4 tahun jatuh sakit. Dia sering muntah-muntah selama sepekan penuh dan mengalami dehidrasi. Setelah serangkaian pemeriksaan di Rumah Sakit Eropa di Khan Yunis, Gaza, para dokter mengatakan kepada ibunya, Aisha Hassouna yang berusia 28 tahun, bahwa putrinya menderita gagal jantung.

Dokter merujuk Yara untuk memperoleh perawatan di Rumah Sakit Al-Makassed di Yerusalem Timur. Orangtuanya mengurus surat permohonan izin untuk Yara dan ayahnya agar dapat meninggalkan Gaza. Surat diajukan ke Administrasi Koordinasi dan Penghakiman Israel.

Dilansir di Haaretz, Selasa (5/12), Ibu Yara mengatakan kepada kelompok hak asasi manusia B'Tselem bahwa permohonan pertama ditolak. Keluarga kembali mengajukan izin baru pada 16 Februari dengan mengikuti seluruh proses birokrasi.

Seperti menyiapkan dokumen, salinan, janji temu, komitmen untuk membayar, formulir permohonan dan kunjungan ke kantor penghubung Palestina, yang mengirimkan dokumen tersebut kepada pejabat dan petugas Israel .

Kali ini, untuk memastikan bahwa permohonan izin tidak ditolak lagi karena identitas orang dewasa yang menyertainya maka keluarga mencantumkan nenek ibunya yang berusia 72 tahun untuk mendampinginya. Permohonan diberikan dan keduanya berangkat ke Yerusalem.

Nenek buyut Yara tersebut menderita tekanan darah tinggi dan diabetes. Lebih buruk lagi, Yara tidak begitu mengenalnya dengan baik sehingga menolak untuk menerima bantuan darinya di rumah sakit. Gadis kecil itu mengira orangtuanya telah meninggalkannya, dan selama dia berada di Al-Makassed, di mana dia menjalani kateterisasi, dia menolak untuk berbicara dengan orang tuanya melalui telepon. "Aku merasa hatiku hancur karena rindu suaranya," kata Hassouna, ibu Yara.

Yara kembali ke rumah dengan berat badan yang menurun dan perasaan marah pada ibunya yang tidak berada di sisinya selama menerima perawatan di Yerusalem. Setelah perawatan dan rawat inap di Jalur Gaza, pihak RS memutuskan untuk mengirim Yara kembali ke Al-Makassed lagi.

Sebuah janji dibuat pada 2 Juni dan dokumen yang diperlukan diserahkan kembali ke kantor penghubung Israel. Sepekan sebelum tanggal yang ditetapkan untuk bepergian, keluarga menerima pesan yang mengatakan bahwa permintaan mereka masih dalam pertimbangan.

Namun, seiring berjalannya waktu, keluarga Yara masih belum menerima jawaban soal izin keluarnya. Hari-hari berlalu, kondisi Yara memburuk dan ketika dia mengalami kekurangan nafas dan tersedak dia kembali dibawa ke Rumah Sakit Eropa.

Pengajuan izin lainnya dilakukan pada 20 Juli, untuk menanamkan alat pacu jantung yang tidak tersedia di Gaza. Tapi Yara meninggal di Rumah Sakit Eropa pada 13 Juli.

Yara adalah satu dari 20 pasien sakit parah yang meninggal tahun ini di Gaza setelah permohonan izin keluar Israel untuk mendapatkan perawatan medis tidak diberikan pada waktunya. Laporan B'Tselem baru yang akan diterbitkan pekan ini membahas fenomena penundaan dalam mengeluarkan izin keluar untuk perawatan medis.

"Pasien tidak menerima penolakan resmi, namun hanya pesan "Permohonan Anda sedang dipertimbangkan." Petugas penghubung Israel mengirim pesan ini ke anggota kantor penghubung Palestina, yang mengirim pesan kepada keluarga tersebut, kadang-kadang pada malam hari sebelum janji untuk keluar," kata pihak B'Tselem.

Selama empat tahun terakhir ini atau tepatnya pada Juni, ketika Yara seharusnya pergi ke Yerusalem untuk memasang alat pacu jantung, 1.920 permintaan dari pasien untuk izin keluar dari Gaza diajukan. Organisasi Kesehatan Dunia mencatat 951 dari aplikasi tersebut disetujui, 20 ditolak (kurang dari satu persen) dan 949 (49,4 persen) tidak terjawab pada tanggal rawat inap atau perawatan.

Dari yang terakhir, 222 aplikasi untuk anak-anak di bawah 18 dan 113 untuk orang berusia di atas 60 tahun. Pada September, 42 persen dari 1.858 aplikasi untuk izin perawatan medis bagi orang-orang yang terlantar. Dari jumlah tersebut, 140 untuk anak di bawah 18 dan 99 untuk orang berusia 60 tahun atau lebih.

Persentase aplikasi yang belum terjawab untuk izin keluar perawatan medis hampir tiga kali lipat dalam empat tahun terakhir. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, yang dilaporkan oleh laporan B'Tselem, pada 2014, 15,4 persen aplikasi tidak terjawab; Pada 2015, angka ini menjadi 17,6 persen.

Pada September 2017, ada 8.555 yang masih belum terjawab, terhitung 43,7 persen dari hampir 20 ribu aplikasi. Alasan keamanan adalah penjelasan untuk penolakan dari aplikasi tersebut. Sekitar tiga perempat dari aplikasi tersebut untuk perawatan di rumah sakit Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, sekitar setengah orang yang mendaftar untuk menemani pasien tidak mendapatkan izin keluar. Hal ini sering menunda perawatan pasien.

[Sumber: ROL]

Komentar

Name :
Email:(Opsional)
Komentar:
Kirim

Komentar