خبرگزاری شبستان

الأربعاء ١ جمادى الأولى ١٤٣٩

Wednesday, January 17, 2018

Waktu :   12/14/2017 1:18:23 PM ID Berita : 30752

Raja Salman Tegaskan Yerusalem Timur Ibu Kota Palestina
SHABESTAN — Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud menegaskan kembali dukungannya terkait status Yerusalem Timur. Kerajaan Arab Saudi mengakui kota tersebut sebagai ibu kota Palestina.

"Warga Palestina memiliki hak untuk Yerusalem Timur yang dicaplok Israel sebagai ibu kota mereka," kata Raja Salman seperti diwartakan Aljazirah, Kamis (14/12).

 

Raja Salman menyampaikan pernyataan tersebut menyusul pertemuan anggota negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul, Turki. Dalam konferensi itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengajak dunia bersama-sama mengakui Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota Palestina.

 

Raja Salman mendesak adanya solusi politik untuk menyelesaikan krisis di kawasan tersebut. Dia menekankan, pentingnya pemulihan hak-hak sah rakyat Palestina, termasuk hak mendirikan negara merdeka mereka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

 

Salman menegaskan keputusan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukan bias yang luar biasa terhadap hak rakyat Palestina di Yerusalem. Padahal, dia melanjutkan, hak masyarakat telah dijamin berdasarkan resolusi internasional.

 

"Saya ulangi, kerajaan mengutuk dan menyesali keputusan AS terkait Yerusalem, karena melepaskan hak-hak bersejarah rakyat Palestina di Yerusalem," katanya.

 

Sebanyak 57 negara anggota OKI menyatakan pengkauan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina. Dalam pertemuan puncak luar biasa OKI di Istanbul, Turki, mereka juga mengajak negara-negara lain untuk mengikuti deklarasi tersebut.

 

"Kami menyatakan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Negara Palestina dan mengundang semua negara untuk mengakui Negara Palestina dan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya," kata pernyataan resmi tersebut.

 

Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan, diakuinya Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel oleh Presiden Donald Trump adalah sebuah kekejaman. Menurut dia, Amerika tak bisa lagi menjadi mediator yang jujur dan dapat diandalakan untuk menyelesaikan konflik di kawasan.

 

[Sumber: ROL]

Komentar

Name :
Email:(Opsional)
Komentar:
Kirim

Komentar