خبرگزاری شبستان

السبت ٧ ربيع الثاني ١٤٤٠

Saturday, December 15, 2018

Headline Berita

Ahlul Bait as Penunjuk Jalan di Dunia Ini

SHABESTAN – Dalam doa ke 42 di dalam Shahifah Sajjadiyah menjelaskan kepada kita jalan dan tujuan mana yang akan kita jalani yang kelak akan membawa manusia pada tujuan utama. Al-Qur’an dan Ahlul Bait as adalah penunjukan jalan di dunia ini, dimana Allah swt sudah menunjukan jalan ini sejak 14 abad silam.

Waktu :   2/21/2018 9:46:42 PM ID Berita : 31544

Ulama Hadhramaut: Derita Yaman Lebih Buruk daripada yang Diberitakan
SHABESTAN — Hadhramaut, wilayah di ujung selatan Semenanjung Arab, punya hubungan khusus dengan Indonesia. Penyebar Islam awal di Tanah Air berasal dari orang-orang Hadhramaut. Mayoritas tokoh keturunan Arab, baik agamawan maupun politisi, di Indonesia juga keturunan Hadhrami — sebutan untuk orang-orang Hadhramaut.

Hasyim bin Abdurrahman bin Alwi Al-Idrus adalah satu contoh sempurna hubungan antara provinsi di Yaman selatan itu dengan Indonesia, negeri yang jauhnya 7.000-an kilometer. Sang kakek, Alwi bin Umar bin Abi Bakr Al-Idrus pernah berdakwah ke Indonesia dan bahkan beristrikan perempuan Indonesia. Saat ini, Hasyim yang datang ke Indonesia pada awal pekan lalu tengah berupaya menemukan keluarga besar dari neneknya di seputaran Tegal, Jawa Tengah.

Hasyim besar dari tradisi keilmuan Hadhramaut. Lahir di Tarim, kota seribu ulama di lembah Hadhramaut pada 1980, Hasyim mempelajari ilmu-ilmu tradisional Islam sejak berusia 10 tahun di Rubat Tarim, salah satu pesantren tertua di Hadhramaut dan sempat ditutup ketika komunis berkuasa di Yaman hingga 1990.

Hasyim, seorang hafiz (penghafal) Al-Quran, kemudian mengajar di Darul Musthofa, lembaga pendidikan milik ulama kenamaan Umar bin Hafiz, selama tujuh tahun. Pada 2009, dia menamatkan studi sarjana di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Setelah mengambil magister di universitas yang sama, dia kini melanjutkan studi doktoral di Ez-Zitouna, Tunisia, sebuah universitas yang telah berdiri sejak Abad ke-7 Masehi, jauh lebih tua daripada Al-Azhar.

Hasyim secara khusus menguasai Ulumul Quran dengan konsentrasi pada Ilmu Qiraat (ilmu beragam jenis bacaan Al-Quran). Dalam spesialisasi ini, dia berhasil memperoleh ijazah (sertifikat) sehingga memiliki kompetensi mengajarkan Ilmu Qiraat. Dia juga mendapat gelar “Syeikh” di Seiyun, kota di Hadhramaut, untuk Ilmu Qiraat pada 2016. Dia banyak menulis tentang Ulumul Quran, terutama Ilmu Qiraat dan Tafsir.

INDOPRESS.ID berkesempatan berbincang dengan Hasyim, ulama muda Yaman yang digembleng dalam dua tradisi keilmuan Islam, tradisional dan modern, pada Ahad 18 Februari di bilangan Cipinang, Jakarta Timur. Dia berbicara tentang persoalan bangsa Yaman saat ini, di tengah gempuran serangan udara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi. “Sampai hari ini, serangan udara masih terjadi di Yaman,” katanya.

Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana kondisi kehidupan masyarakat Yaman, khususnya di Hadhramaut sebagai pusat pendidikan, selama perang?

Sebagaimana wilayah mana pun di dunia ini, Hadhramaut pasti akan terpengaruh dengan peperangan yang terjadi di sekitarnya, apalagi dengan perang di negeri Yaman sendiri. Lebih khusus, pengaruh itu akan sangat dirasakan oleh masyarakat lemah, masyarakat menengah ke bawah. Kondisi ini benar-benar terasa ketika sejumlah fasilitas dan kebutuhan pokok terputus atau terhenti, padahal sebelum perang sekalipun kondisinya sudah minim.

Sementara itu, pusat keilmuan yang ada di Hadhramaut terbagi dua, ada lembaga pendidikan yang dikelola pemerintah dan ada yang betul-betul dikelola oleh swadaya masyarakat, khususnya pusat keilmuan tradisional seperti rubat (pesantren). Justru yang kedua ini tak begitu terpengaruh oleh peperangan sementara pusat keilmuan pemerintah terhenti. Di rubat, sebagian besar pelajarnya datang dari luar negeri, terutama Asia seperti Indonesia. Fenomena mencoloknya saat ini, jumlah mereka berkurang saat perang pecah tapi proses belajar mengajar tetap berlangsung. Bahkan, khusus warga Yaman sendiri, para akademisi dari lembaga pemerintah kini beralih ke pesantren dan lebih fokus mengajar. Di masa awal perang, memang terasa ada krisis pangan tapi berangsur-angsur memulih, khususnya di Hadhramaut. Juga khusus di Hadhramaut, kami berhasil mencari jalan bagaimana bisa beradaptasi dengan situasi saat ini.

Bagaimana dengan kondisi fisik di Hadhramaut akibat perang?

Hadhramaut menderita dampak ekonomi akibat perang tetapi, bersama Al-Mahrah di Yaman selatan, tak mengalami kerusakan fisik yang berarti karena tak ada serangan udara. Sementara, provinsi lain di Yaman selatan, seperti Aden dan Syabwah, mengalami banyak kerusakan karena serangan udara. Tapi, kami tetap merasakan sekali dampak ekonominya.

Yang paling terdampak di Hadhramaut adalah lembaga pendidikan masyarakat yang disebut mi’lama (seperti surau di Indonesia) yang mengandalkan bantuan dari donatur di luar negeri, seperti dari Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Akibat perang, sumbangan itu tak bisa lagi datang. Al-Qaeda sempat masuk ke Hadhramaut selama satu tahun di awal perang. Mereka menghancurkan kubah-kubah dan makam-makam suci para wali.

Kenapa tak ada serangan udara di Hadhramaut?

Apa yang memicu perang ini? Karena ada Hutsi dan Al-Qaeda. Hutsi ada di Yaman utara sedangkan al-Qaeda di Yaman selatan selain Hadhramaut, sehingga keduanya tak ada di Hadhramaut.

Lembaga internasional mengatakan blokade Saudi atas Yaman menyebabkan krisis kemanusiaan, seperti kelaparan dan wabah kolera. Bagaimana Anda melihatnya?

Yang sebenarnya adalah kondisi di Yaman lebih buruk daripada yang diberitakan. Tak ada negara, kecuali Saudi, yang memblokade seluruh wilayah di suatu negara, yakni Yaman. Warga Yaman diboikot dari segala penjuru. Saudi menutup seluruh perbatasannya sementara Oman memberlakukan visa bagi kami. Di laut, kapal-kapal UEA juga memblokade Yaman.

Kami harus ke Salalah, kota perbatasan di Oman, dulu untuk mendapatkan visa ke Oman (Kedutaan Besar Republik Indonesia juga telah pindah dari Sana’a ke Salalah–redaksi). Yang kami derita lebih dahsyat daripada yang diberitakan. Saya juga tak berlebihan jika mengatakan embargo yang kami alami ini lebih parah daripada embargo di Jalur Gaza (Palestina) karena warga Gaza masih bisa keluar-masuk melalui Mesir sementara kami total diblokade. Kelaparan di Yaman juga lebih buruk daripada yang pernah terjadi di Somalia pada 1990-an. Bahkan, bantuan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa hingga kini masih sulit masuk.

Bukankah Saudi juga menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Yaman?

Bantuan Saudi itu mirip dengan seorang pembunuh yang mengiringi janazah korbannya sendiri. Apa yang dilakukan Saudi dengan bantuan kemanusiaan itu tak sebanding dengan dampak yang diakibatkan oleh ulah mereka sendiri. Ada dua model bantuan Saudi. Mereka mengirimkan bantuan demi mengurangi wabah kolera yang mereka sebabkan sendiri dan bantuan untuk persediaan bagi pasukan yang setia kepada mereka.

Bagaimana orang-orang Yaman menyiasati situasi ini sehari-harinya?

Jika bangsa lain mengalami ini, mereka mungkin sudah keluar dari negeri mereka atau memohon bantuan dari luar tapi kami tidak. Kami tetap bertahan di negeri kami. Mungkin kondisinya mirip dengan yang digambarkan dalam al-Quran, “Orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak…(Al-Baqarah: 273).

Kami juga sejak lama telah hidup secara gotong royong. Baik orang yang mampu maupun tidak, mengumpulkan semua persediaan makanan mereka menjadi persediaan bersama dan kemudian kami semua makan dari persediaan itu. Karena perang ini, persaudaraan kami juga semakin kuat. Sebagai contoh, ketika terjadi pembunuhan terhadap Ali Abdullah Saleh (Presiden Yaman terguling–redaksi), tak ada pembalasan dari anggota sukunya Al-Ahmar karena Ansharullah (sebutan untuk kelompok Hutsi–redaksi) datang kepada kepala suku Al-Ahmar. Hutsi siap membayar uang darah (diyat) dan kemudian kepala suku Al-Ahmar mengatakan bersedia menerima apa pun keputusan Abdul Malik Hutsi (pemimpin Hutsi) karena Ali Abdullah Saleh telah mengkhianati bangsa Yaman.

Bagaimana upaya yang dilakukan para ulama di Hadhramaut untuk menghentikan perang ini?

Para ulama dan habaib di Hadhramaut hanya bisa meminimalisasi dampak dari peperangan ini, seperti mencoba mendinginkan situasi dan menenangkan masyarakat. Mereka juga membantu dengan doa. Selama perang, kami terus mengadakan majelis yang memanjatkan doa keselamatan bagi seluruh rakyat Yaman.

Bagaimana sikap para ulama Hadhramaut terhadap perang ini?

Ulama di Hadhramaut punya pendapat masing-masing dan jarang ada yang menyatakannya secara resmi ke publik meskipun ada ulama Yaman di luar yang malah mendukung pihak agresor. Bagi mereka, perang ini adalah fitnah besar, sehingga tak ingin menunjukkan secara terbuka posisi mereka.

Bagaimana pandangan Anda dengan anggapan bahwa perang di Yaman adalah konflik antarmazhab?

Jika datang kepada anda orang yang mengadukan satu matanya dicongkel, jangan anda tergesa-gesa membela orang ini dan menyalahkan orang yang dia tuduh. Sebab, orang yang dia tuduh bisa jadi dua matanya yang dicongkel. Saya ingin menegaskan ini bukan masalah mazhab. Sebab, berbagai mazhab di Yaman telah hidup damai selama ini. Yang pasti dan tak bisa diingkari dari perang ini adalah serangan udara yang menyebabkan kerusakan dahsyat bagi Yaman.

[Sumber: Indo Press]

Komentar

Name :
Email:(Opsional)
Komentar:
Kirim

Komentar