خبرگزاری شبستان

السبت ٩ ذو القعدة ١٤٣٩

Saturday, July 21, 2018

Waktu :   7/11/2018 8:03:31 PM ID Berita : 32946

Atwan: Hitungan Mundur Perang Iran VS AS Dimulai
SHABESTAN — Presiden Iran Hassan Rouhani menumpahkan kemarahannya dan mengancam akan mengganggu pengiriman minyak Saudi dan negara-negara Teluk, jika Washington benar-benar memberlakukan pencegahan terhadap semua negara yang ingin membeli minyak dari Iran dan memaksakan blokade yang menyesakkan pada Iran dan rakyatnya.

Pernyataan Rouhani sangat penting dan serius serta belum pernah terjadi sebelumnya, setidaknya ada tiga hal utama:

Pertama, pernyataan itu dipublikasikan di situs resmi kepresidenan Iran dan diulang oleh Presiden Rouhani pada konferensi pers di Jenewa selama kunjungannya ke Swiss. “Tidak ada gunanya menahan ekspor minyak Iran, sementara minyak negara-negara Teluk diekspor,” katanya.

Kedua, Jenderal Qassem Soleimani, komandan  di Garda Revolusi Islam Iran, memuji pernyataan Rouhani, dan mengatakan bahwa “Pasukan Quds” siap untuk menerapkan strategi yang menghambat ekspor minyak regional jika AS melarang penjualan minyak Iran. “Ini adalah Rouhani yang kita kenal.”

Ketiga, Banyak para pengamat dalam urusan keamanan minyak mengatakan bahwa ancaman ini berarti bahwa Iran dan Garda Revolusi khususnya akan mengambil beberapa langkah untuk merugikan Amerika dan negara-negara Teluk yang berpartisipasi dalam pengepungan. Yang paling menonjol adalah dengan penutupan Selat Hormuz, di mana 18 juta barel minyak Arab Saudi, Kuwait, UEA, dan Qatar, melewatinya.

BacaRouhani Ancam Tutup Selat Hormuz Jika AS Hentikan Ekspor Minyak Iran.

Para pemimpin Iran telah mulai bergeser dari kebijakan pertahanan ke serangan media setidaknya, setelah Presiden AS Donald Trump meminta Raja Saudi Salman bin Abdul Aziz dalam panggilan telepon untuk meningkatkan produksi hingga dua juta barel minyak mentah, selain produksi saat ini yang mencapai 10 juta barel. Untuk menutupi kekurangan yang dihasilkan dari penangguhan ekspor minyak Iran (2,8 juta barel per hari) sebagai akibat dari blokade.

Brian Hook, direktur perencanaan di Kantor Pusat AS, mengatakan “Amerika yakin bahwa ada cukup cadangan minyak untuk membuang minyak mentah Iran, dan bahwa tujuan pemerintahnya adalah untuk mengurangi pendapatan minyak Iran ke angka nol,” dalam referensi langsung pada tanggapan ini, dan konfirmasi bahwa blokade berjalan sesuai dengan keputusan yang direncanakan.

Pemerintah AS sedang mengimplementasikan rencana yang disiapkan di ruang tertutup untuk mengacaukan Iran melalui pengenaan blokade ekonomi yang menyesakkan dan mendorong pada ledakan protes massa, kemudian orang-orang anti revolusi akan bergerak atas perintah “Mossad” dan “CIA”, untuk pengulangan skenario Suriah dalam satu atau lain cara, sehingga hasilnya adalah perubahan rezim yang mirip dengan apa yang terjadi pada pemerintah Muhammad Mossadeq pada tahun 1953 ketika digulingkan oleh kudeta yang dipimpin oleh CIA setelah nasionalisasi industri minyak di negara itu, dan mengembalikan Shah Iran ke tahta.

BacaAS Siap Hadapi Iran Jika Selat Hormuz Ditutup.

Situs Zerohedge.com yang berbasis di Washington menerbitkan sebuah laporan yang didukung oleh dokumen-dokumen yang mengkonfirmasikan pembentukan kelompok kerja AS-Israel dengan perwira senior Mossad dan CIA untuk mengadakan beberapa pertemuan dan mempersiapkan gangguan dan protes. Di semua kota-kota di Iran yang mengeksploitasi kondisi ekonomi yang memburuk di negara itu, dengan dibawah pengawasan John Bolton, penasihat keamanan nasional AS, dan rekannya dari Israel, Meir Ben Shabat.

Rencana kelompok, sebagaimana dinyatakan di situs web Amerika, perekrutan kelompok oposisi Iran, penggunaan luas media sosial untuk menghasut demonstrasi. Bahkan Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel, mengirim pesan kepada orang-orang Iran yang menuntut revolusi dengan menjanjikan dukungan, dan Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri AS melakukan hal yang sama di akun “Twitter-nya”.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dapat memicu perang, dimana AS-Israel akan menggunakan dalih dan alasan tersebut untuk invasi dan agresi ke Iran. Tetapi apakah mungkin pimpinan Iran menunggu pemberontakan rakyat untuk digulingkan sebagai akibat dari blokade yang menyesakkan, sebagaimana protes yang meledak dua kali dalam waktu kurang dari setahun. Yang pertama pada bulan Januari dan Desember, di 75 kota, dan yang kedua sebulan lalu di ibukota Teheran?

Penghentian ekspor minyak Iran berarti runtuhnya mata uang lokal, penghentian sebagian besar impor yang diperlukan untuk melanjutkan pekerjaan sendi-sendi dasar dalam infrastruktur negara, terutama impor teknologi dan suku cadang, serta kebutuhan dasar rakyat, yang berarti runtuhnya negara, belum lagi kelaparan dan kemiskinan serta harga (kebutuhan pokok) yang meroket.

BacaShadow Commander Puji Pernyataan Tegas Rouhani Tanggapi AS dan Israel.

Rudy Giuliani, salah satu pengacara Trump dan mantan walikota New York yang dikenal karena kesetiaannya kepada Israel, menyampaikan pidato berapi-api pada konferensi di hadapan oposisi Iran di Paris pekan lalu. Ia mengatakan kepada para hadirin, “Sampai jumpa di Tehran tahun depan,” merujuk pada gelombang protes yang direncanakan untuk meledak di Teheran dalam beberapa minggu mendatang.

Presiden Rouhani mengatakan pada konferensi persnya yang diadakan di Jenewa dan Wina, dua tempat pertama dalam turnya ke Eropa, bahwa pemberlakuan blokade terhadap Iran akan merugikan Amerika dengan harga yang mahal, dan menambahkan bahwa hal itu juga akan merugikan negara-negara Arab dan Teluk dalamnya harga yang lebih serius dan mungkin “eksistensial”.

Memutus minyak Iran seperti memotong leher, jika tidak lebih berbahaya. Oleh karena itu, kita akan menghadapi banyak kejutan dan guncangan di wilayah dalam beberapa minggu dan bulan mendatang, untuk Amerika, sekutu Arabnya, dan Israel pada khususnya, serta hari-hari di antara kita.

Penulis: Abdel Bari Atwan, Editorial Surat Kabar Ra'i Al-Yaoum.

[Sumber: ARN]

Komentar

Name :
Email:(Opsional)
Komentar:
Kirim

Komentar