خبرگزاری شبستان

الاثنين ١٢ صفر ١٤٤٠

Monday, October 22, 2018

Headline Berita

Ahlul Bait as Penunjuk Jalan di Dunia Ini

SHABESTAN – Dalam doa ke 42 di dalam Shahifah Sajjadiyah menjelaskan kepada kita jalan dan tujuan mana yang akan kita jalani yang kelak akan membawa manusia pada tujuan utama. Al-Qur’an dan Ahlul Bait as adalah penunjukan jalan di dunia ini, dimana Allah swt sudah menunjukan jalan ini sejak 14 abad silam.

Waktu :   8/8/2018 10:46:50 PM ID Berita : 33322

Mengenal Lebih Dekat Tradisi Apitan
SHABESTAN — Seperti diketahui, masyarakat Jawa kaya akan beragam tradisi, baik tradisi yang diwariskan oleh ajaran agama dari leluhur, tradisi yang lahir setelah masuknya pengaruh Islam di Jawa, maupun tradisi yang merupakan perpaduan dari ajaran leluhur dengan ajaran agama.

Di antara sekian banyak tradisi tersebut, salah satunya adalah tradisi Apitan. Yakni tradisi yang biasanya dilaksanakan di antara dua hari raya Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Karenanya tradisi yang terjepit itu disebut Apitan. Tak heran bila bulan Dzulqa’dah dalam kalender Islam oleh orang-orang Jawa biasa disebut bulan Apit.

Prosesi Apitan yang dikenal pula dengan istilah sedekah bumi merupakan selamatan dalam rangka untuk mensyukuri nikmat Sang Pencipta.  Dalam pelaksanaannya, biasanya ratusan warga bersama-sama menyantap 500 ekor ayam kampung yang dimasak utuh dengan bumbu (ingkung).  Nasi Ingkung ini disajikan bercampur nasi, oseng tempe, mie goreng, tempe dan tahu dengan dibungkus daun pisang.

Tradisi Apitan ini merupakan bentuk rasa syukur warga atas hasil pertanian yang melimpah.  Hal ini terlihat dari banyaknya kaum bapak yang berdatangan menuju lokasi tradisi Apitan sejak siang, yang masing-masingnya membawa keranjang berisi nasi ingkung berbungkus daun pisang yang telah dimasak oleh para istri di rumah.

Setelah 500 nasi ingkung yang diletakkan di jalan perkampungan setempat terkumpul, warga kemudian berkumpul untuk menggelar doa. Mereka duduk bersila secara lesehan di jalan beton dengan beralaskan tikar.

Usai doa rampung dipanjatkan, warga langsung beramai-ramai menyantap hidangan nasi ingkung di hadapan mereka. Dalam hitungan menit, ratusan nasi ingkung berbungkus daun pisang itu ludes. Hanya beberapa nasi ingkung yang tersisa dan dibawa pulang oleh warga.

Ingkung adalah salah satu ubo rampe berupa ayam kampung yang dimasak utuh dan diberi bumbu opor, kelapa dan daun salam.

Sekadar informasi, yang dimaksud ubo rampe adalah segala alat dan piranti yang dipakai dalam sebuah ritual. Dalam tradisi Apitan ini, ubo rampe berupa lauk pauk yang disajikan sebagai sajen untuk menemani hidangan lain dalam sajen seperti tumpeng.

Ubo rampe ingkung dimaksudkan untuk menyucikan orang yang punya hajat maupun tamu yang hadir pada acara hajatan.

Ingkung ini mengibaratkan bayi yang belum dilahirkan, dengan demikian belum mempunyai kesalahan apa-apa atau masih suci. Selain itu Ingkung juga dimaknai sebagai sikap pasrah dan menyerah atas kekuasaan Sang Khalik.

Nama ingkung berasal dari bahasa Jawa, yakni kata “ing” atau “ingsung” yang berarti aku dan kata “manekung” yang bermakna berdoa dengan penuh khidmat.

Secara turun temurun, nasi ingkung secara swadaya dibawa oleh masing-masing warga tanpa unsur paksaan. Ini wujud rasa syukur mereka kepada Allah SWT karena hasil bumi meningkat signifikan.

Menambah kemeriahan dan suasana guyubnya, tradisi Apitan biasa diakhiri pertunjukan seni barongan dan ketoprak.

 

[Sumber: Islam Indonesia]

Komentar

Name :
Email:(Opsional)
Komentar:
Kirim

Komentar